Teringat dan Terkenang

Untuk menyingkap sisi lain batu nisanku kelak dimana hanya ada nama, kelahiran dan kematian, maka aku menulis!

Tampilkan postingan dengan label Minang Selebriti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minang Selebriti. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Nur Khairat Arniman: Talenta Minang Bersuara Emas

Nur Khairat Arniman: Talenta Minang Bersuara Emas

Padang Ekspres Edisi 05 April 2015
Khairat yang memiliki nama lengkap Nur Khairat Arniman, satu lagi pemilik suara emas asal Sumatera Barat. Gadis cantik kelahiran 24 September 1989 itu akan mewakili masyarakat Minangkabau dalam Kontes Dangdut Indonesia (KDI) yang ditayangkan salah satu TV swasta nasional.
Khairat bercita-cita mengharumkan nama Sumbar dalam kancah musik dangdut di tanah air. Setelah lolos tahap seleksi 40 besar beberapa waktu lalu, Khairat akan kembali bertolak ke Jakarta Senin (6/4) untuk tahapan selanjutnya menuju 20 besar.
Rabu 8 April mendatang, Khairat akan bersaing dengan kontestan lainnya dalam ajang KDI yang akan digelar secara live mulai pukul 20.00 WIB. Untuk bisa lolos ke 20 besar Khairat mengharapkan dukungan seluruh masyarakat dan perantau Minang yang ada di seluruh  Indonesia.
Dijumpai Padang Ekspres Jumat (3/4), disela-sela kesibukannya usai membawakan sebuah program TV Khairat menyampaikan permintaan dukungan. “Dunsanak, tolong SMS yang banyak ya.Ketik  KDI spasi Khairat kirim ke 95151,” ucap Khairat dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan karir Khairat di dunia musik tergolong unik. Sebelumnya, di sebuah orkes gambus berlabel Nur Khairat, dirinya berposisi sebagai pemain keyboard sedangkan yang menjadi vokalis adalah sang ummy (panggilan Khairat untuk ibunda, red). Waktu itu Khairat masih menduduki bangku MTs.
Buah hati dari Luqman dan Arni itu juga tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan vokal atau les menyanyi secara formal. ”Kalau belajar mengaji itu dari Uya (panggilan Khairat untuk ayahanda, red) kalau belajar nyanyi itu dari Ummy. Tidak ada les formal,” kata gadis cantik yang juga mahir memainkan biola itu.
Khairat juga menceritakan pengalamannya menyanyi di depan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. 
“Waktu itu Khairat menjadi Duta Anak Nasional utusan Sumbar untuk menghadiri sebuah acara di Jakarta, dalam acara itu Khairat di suruh nyanyi di depan presiden. Membawakan lagu berjudul Habibi, Khairat senang sekali karena itu kesempatan langka,” ujar dara yang tergila-gila makan Asam Padeh itu.
Kakak dari Muhammad Sahibul Amin itu mengaku santai soal penampilan. Sebagai persiapan, Khairat lebih fokus mengenal perbedaan cengkok antara musik dangdut dan melayu. 
“Selain menjaga kesehatan, Khairat masih belajar cengkok dan menambah perbendaharaan lagu dangdut, maklum background kan berasal dari musik gambus,” ungkapnya dengan suara tiruan kartun Upin-Ipin.
Soal prestasi, pengalaman anak pertama dari dua bersaduara itu tidak diragukan lagi. Di dunia bintang qasidah, Khairat sudah seringkali menyabet gelar juara, tahun 2011 tim nasyid yang diusungnya berhasil meraih Juara 1 mewakili Sumbar pada ajang Lomba Nasyid Nasional.
Terakhir, Januari lalu Khairat terpilih menjadi Finalis Putri Muslimah Sumbar. Dalam waktu dekat dirinya akan bersaing dengan finalis provinsi lain untuk meraih titel Putri Muslimah Indonesia di Jakarta. (*)

Senin, 17 Agustus 2015

Riki Thresia, antara Karir Menyanyi dan Polisi

Dimuat di Padang Ekspres edisi 16 May 2015

Didukung Komandan, Utamakan Tugas Kepolisian
”Garudo tabang ateh langik mak Turunlah gajah patah gadiang
Manyasok lalu ka tapian
Tampak nan dari tabang ka hulu.”
Lagu ini menjadi andalan Riki Thresia pada album keduanya. Bagaimana keseharian Riki Thresia membagi waktu antara karir dan menyanyi?
Penampilan Tere—sapaan akrab Riki Thresia—dalam video klip lagu ini menceritakan kisah nyata seorang polisi tahun 2014 lalu. Target operasi dalam video klip tersebut merupakan seorang pembawa sabu, ganja dan senjata tajam.
Ketika Reskrim Padang Selatan berhasil menangkap si pengedar, alangkah kagetnya sang polisi, ternyata pelakunya adalah adik kandungnya sendiri.
Ibunya pun tidak tahu bahwa sang adik ditangkap oleh kakak kandungnya. Bahkan, temannya sesama polisi, tidak menduga bahwa pengedar narkoba itu adalah adik Tere.  
Kisah inilah yang diceritakan Tere kepada Wan Parau, dan berujung pada pembuatan sebuah video klip lagunya. Tere adalah anggota Polsekta Padang Selatan.  
“Waku mengikuti pendidikan kepolisian di Padangbesi, banyak rekan-rekan bernama Riki. Ketika yang satu melakukan kesalahan, semua bernama Riki dihukum. Akhirnya, salah seorang komandan memberi singkatan nama Riki Thresia menjadi Tere,” tutur anak keempat pasangan Nutria dan Zainul Abidin itu.
Tere hobi menyanyi sejak kelas 2 SMP.  Wan Parau menjadi pelatih olah vokal dan pernapasan. Akhirnya, album perdana berhasil diluncurkan tahun 2013, dengan 10 buah lagu karya Wan Parau.
“Latihan sering digelar di Taman Makam Pahlawan Lolong. Bergitar di pinggir jalan raya dan akhirnya dipercaya membawakan 10 karya Wan Parau, saya benar-benar tidak menyangka,” ucap suami dari Lisa Febrina ini.
Memakan waktu sekitar dua bulan, album yang diproduseri Randi Fermansen ini pun rampung. Menurut Tere, album bertajuk Mambangkik Batang Tarandam ini, mendapat sambutan hangat di belantika musik Minang.
 “Alhamdulillah tanggapan masyarakat cukup baik, kurang lebih 5 ribu copy CD terjual,” ujar pria kelahiran 10 Mei 1981 ini.
Setelah sukses merilis album pertama, ia pun kembali dipercaya menggarap album berikutnya. Oktober 2014, Tere merilis album kedua. Musisi Minang kenamaan seperti Yen Rustam, Wan Parau, Alextri Chaniago, dan Faisal Chank turut andil menyumbangkan karyanya dalam album kedua ini.
“Ada beberapa lagu andalan dalam album ini, seperti Maafkan karya Yen Rustam, dan Pasan Mande, Mangalah Bukan Dek Kalah karya Wan Parau, Limau Puruik karya Faisal Chank, serta Sitinjau Lauik dan Cinto di Pantai Padang karya Alextri Caniago,” sebut Tere.
Lagu Minang, menurut Tere, tidak semudah dipikirkan, meskipun sudah menjadi bahasa sehari-hari. “Harus paham dengan tema supaya meresapi makna lagu. Masalah cengkok juga tidak kalah sulitnya, berbeda dengan lagu pop,” ujarnya.
Di sela kesibukan sehari-hari, Tere tetap memprioritaskan kewajibannya sebagai seorang polisi.
“Saya bernyanyi dengan tidak meninggalkan tugas, shooting saja kalau tidak ada izin komandan tidak bisa. Sabtu-Minggu sekalipun bila ada jadwal mentas, jika bentrok dengan piket, pementasan terpaksa dibatalkan,” tuturnya.
Yang penting, tambahnya, bisa menjalani dua kehidupan berbeda. Tere berharap dengan mendedikasikan diri di dunia hiburan Minang dapat mengurangi imej jelek kepolisian selama ini.
“Ada sisi lain dari seorang polisi, dan tidak semua polisi identik dengan kekerasan. Polisi sama dengan instansi lain, cuma diberi wewenang khusus menegakkan hukum oleh negara. Mudah-mudahan polisi tidak lagi menjadi momok yang ditakuti dan dimusuhi masyarakat. Semoga album pertama dan kedua diterima di masyarakat,” ucapnya.
Menjadi seorang penyanyi Minang, tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Tere.
“Saya benar-benar tidak menyangka, awalnya hanya fokus karir sebagai polisi. Alhamdulilah komandan sangat mendukung, dalam berbagai kesempatan komandan selalu membantu promosi lagu-lagu saya, ko anggota ambo, balilah albumnyo,” ucap Tere melafalkan gaya komandannya.
“Kalau tampil di hadapan komandan, selalu di-request lagu Mambangkik Batang Tarandam karena kisah hidup komandan yang berasal dari keluarga kurang mampu, dengan rumah beratapkan rumbio semasa kecil,” tambahnya.
Tere ikut berbangga seiring booming lagu Minang di kalangan generasi muda, sekaligus menyayangkan masih maraknya pembajak lagu Minang.
“Kalau saja konsumen tahu susahnya membuat lagu, mereka tidak akan mau membeli VCD bajakan. Alangkah besarnya kerugian yang diderita industri musik. Waktu, biaya, tenaga dan pemikiran produser terkuras membuat sebuah karya, sayangnya bajakan tetap merajalela,” imbuh ayah Stiven Limbelju dan Deca Febriangela ini. (*)

Edi Satria a.k.a Mak Itam, Artis Minang Multitalent

Dimuat di Padang Ekspres edisi 13 Juni 2015

Berawal dari Randai, Artis, Dosen hingga Produser
Nama Edi Satria atau akrab dipanggil Mak Itam, tak asing lagi bagi pecinta musik Minang. Sepak terjangnya di industri musik Minang, tak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana perjalanan karirnya?  
Den baok bajalan ka ateh ka baruah
Indak lah tantu hati ko nan sadang rusuah
Mancari panompang oto ndak namuah panuah
Urang diimbau gayanyo acuah tak acuah

Begitulah penggalan lirik lagu Mak Itam dalam salah satu lagunya berjudul ”Oto Pinjam”. Berbagai kesibukan dan jadwal manggung, kini menghiasi hari-hari Mak Itam. Statusnya sebagai dosen tidak menghalangi rutinitasnya sebagai entertainer bergenre Minang.
Mak Itam sering disandingkan dengan Jhon Cakra, Mak Lepo, Mak Pono, Si Cabiak atau pun Etek Kadai. Mereka tampil menghibur dengan aksi kocak dan candaan khas, berisi pesan moral mengenai fenomena aktual di tengah masyarakat.
Kepada Padang Ekspres kemarin (12/6), pria kelahiran Paninggahan, Kabupaten Solok pada 7 Mei 1975 silam itu, menceritakan perjalanan hidupnya menapaki kesuksesan sebagai artis Minang. Kedua orangtuanya, Bainun (ayah) dan Nuribah (ibu), meninggal dunia ketika dirinya tamat SMP.
Hidup yatim piatu, membuat bungsu dari enam bersaudara itu harus belajar hidup mandiri. Jiwanya semakin tertantang setelah mendengar cemooh tetangga yang meremehkannya.
“Tetangga di kampung pernah mengatakan kepada saya, seluruh keluarga saya sampai ke bako (keluarga dari pihak ayah, red) tidak akan menjadi orang sukses. Ucapan inilah yang ingin saya buktikan. Dengan kerja keras dan tawakal, saya bertekad bisa sarjana,” kenang Mak Itam.
Sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, Mak Itam aktif dalam kesenian randai di kampung. Bukik Gunung Siri, demikian nama sanggar seni yang mendidiknya.
Singkatnya, tahun 2004, Mak Itam dipertemukan dengan Edi Cotok, Sukaesih dan Mak Lepoh. Mereka berkolaborasi menelurkan album Kucindan Minang di bawah payung Minang Record. Setahun berselang, lahirlah album kedua bertajuk Lagu Lawak R&B.
Ketika menempuh pendidikan sarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Mak Itam dipertemukan dengan Jhon Cakra dan Mak Lepo. Tahun 2007, mereka melahirkan album berjudul Langkok-langkok. Dari sinilah nama Mak Itam meroket.
Album yang dirilis tahun 2007 itu, mengusung Pangaja Jando dan Centang Parenang, sebagai lagu andalan. “Sejak itulah Mak Itam dikenal dari Sabang sampai Merauke dengan penjualan CD sampai 50 ribu copy,” kenang Mak Itam.
Kesabaran Mak Itam membuahkan hasil. Ucapan tetangga yang dulu memandangnya sebelah mata, lambat laun berubah. Tahun 2009, Mak Itam diangkat menjadi PNS sebagai Pranata Labor Pendidikan di ISI Padang Panjang.
“Edi Satria paham di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Ketika berprofesi sebagai PNS, pakai baju dinas dan melaksanakan kewajiban. Di luar jam dinas, Edi Satria menjadi Mak Itam dan tampil menghibur masyarakat,” ujar suami Desrita itu.
Dengan gelar magister (S-2) yang disandangnya, Mak Itam juga sudah menciptakan berbagai film singkat bertemakan budaya Minang.
Malin Datang, Situ Nurbara, Datuak Paragiah merupakan karya pelesetan Mak Itam dari cerita rakyat Malin Kundang, Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih yang telah diputar di berbagai daerah di Sumbar.
”Dengan memasukkan unsur khas Minang, kita masih bisa bersaing dengan sinetron dan film nasional. Kalau dulu di Sumbar pernah lahir film Sengsara Membawa Nikmat dan Datuk Maringgih, berarti kita juga bisa menciptakan hal setara,” kata Mak Itam yang sehari-hari menetap di Pasar Usang, Padangpanjang itu.
Tahun 2011 bisa jadi puncak karir ayah dari Luxiana Kharisma yang sedang duduk di bangku kelas 3 SD itu. Berbekal sejuta pengalaman dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, Mak Itam membentuk dapur rekaman sendiri bernama Win Record.
Sebagai seorang produser label Win Record, Mak Itam sudah memproduksi delapan album. Terakhir, bersama Jhon Cakra, Upiak Segeh, dan Cabiak bergabung Win Record mengeluarkan album bertajuk Bagadencak  pada April 2015 lalu.
Kini, lagu-lagu berjudul Buruak Sisiak, Kadai Kopi, Coment Saya, Karajo Sampiangan sudah bisa didapatkan di toko VCD atau di-download melalui Youtube.
Mak Itam juga tengah meneruka karir di dunia bisnis. Maret 2015, dia mendirikan Talago Intan Art sebagai penyedia jasa perlengkapan pernikahan dan panggung hiburan.
“Segala paket kesenian, tenda pelaminan, MC dan alat musik ada di sini. Jikok ka Sawah Jan Lupo Batanam Padi, Kalau Ado Acara Jan Lupo Undanglah Kami,” pungkasnya. (*)

Jhon Cakra, Artis Bergenre Kocak dan Syarat Pesan

Dimuat di Padang Ekspres edisi
Meniti Karir lewat Salawat Dulang
Bukannyo anggan manjawek kato, aia mato lah bajatuahan, mandanga balam lah bapitulah, usah diharok padi hampo… Kama badan ka manyuruak dek sisiak nan ko bana nan buruak.
Begitulah cuplikan lirik lagu terbaru Jhon Cakra berjudul “Buruak Sisiak”. Berawal dari sebuah pertunjukan tradisi Minangkabau, salawat dulang mengantarkan karir Jhon Cakra menjadi salah satu artis kocak dunia musik Minang.
Saat usianya masih belia, dia sering tampil satu panggung dengan Fir Arjuna membuat artis senior itu terkesan padanya.  
Delapan album sudah dihasilkan Jhon Cakra dan ”geng”-nya, tak asing lagi di telinga masyarakat Sumbar. Bahkan, kini putra asli Luhak Nan Tuo itu kebanjiran job dalam multi iven.
Sebagai pemain salawat dulang, juga penyanyi Minang. Jhon Cakra lebih dikenal masyarakat apabila digandengkan dengan nama-nama, seperti Mak Itam, Mek Lepo, Mak Lepai, atau pun Etek Kadai.
Perjalanan karir dan perjuangan pria kelahiran Batusangkar 5 Mei 1981 ini dalam mengarungi bahtera musik Minang, masih terpatri jelas diingatan putra dari pasangan M Yunus St Maruhun dan Yuniar itu.
Ketidakharmonisan Fir Arjuna dengan pasangan duetnya di salawat dulang, membuka jalan bagi Jhon Cakra untuk eksis. 
Dia diajak tandem. Lama kelamaan, merasa cocok satu sama lainnya Jhon Cakra ditawari membuat album dengan tajuk “Saldu” pada tahun 2004. Berisikan 10 buah lagu.
Menurut pemilik nama asli Jhon Erizal itu, salawat dulang merupakan kesenian khas Minangkabau yang syarat nilai-nilai dakwah Islam. Itu pula yang menjadi dasarnya bermusik.
”Pesan moral yang terkandung di dalamnya sangat beragam. Sayangnya, tidak ada regenerasi dari kalangan tua kepada yang muda membuat salawat dulang terancam punah. Dari seluruh kabupaten/kota di Sumbar, tidak semua daerah lagi memiliki kelompok salawat dulang. 
Hal ini bisa dilihat dari jumlah peserta, itu pun yang ikut rata-rata dari partai tua,” ujar suami Yusna Yensi ini.
Hal itulah yang menarik minatnya untuk tetap melestarikan salawat dulang. Meskipun banyak undangan untuk manggung menyanyi, Jon Cakra tetap memberi ruang dan waktu memenuhi undangan salawat dulang.
“Biasanya ketika ada bentrok antara jadwal menyanyi dan salawat dulang, saya tetap mendahulukan undangan yang pertama diterima,” tutur ayah Raja Syaidil Akram ini.
Jumat (22/5) lalu misalnya, Jhon Cakra berangkat menuju Sijunjung memenuhi permintaan menampilkan salawat dulang dalam sebuah pesta perkawinan. “Alhamdulillah ada tawaran tampil salawat dulang di Sijunjung bersama adik saya,”ucapnya.
Hidup dalam satu lingkungan kampus, Jon Cakra dipertemukan dengan Mak Lepo dan Mak Itam. Berkat kesamaan ide, akhirnya membuat mereka menghasilkan album kocak Minang dengan tema “Langkok-Langkok” di bawah naungan Minang Record.
Album yang dirilis tahun 2007 itu, mengusung “Pangaja Jando” dan “Centang Parenang” sebagai lagu andalan. “Sangat diluardugaan kami, ternyata album itu menarik minat masyarakat. Terbukti dengan larisnya puluhan ribu copy di pasaran,” akunya.
Tidak lama berselang, Jon Cakra dan rekannya memutuskan keluar dari pentolan Minang Record.
“Karena ada suatu konflik antara kami, terpaksa mencari pelabuhan lain. Tak lama berselang, kami bergabung dengan Leprin Production. Dari sinilah lahir album Bagadele 1 sampai Bagadele 5. Lagu-lagunya antara lain “Muak Den”, “Anak Pak Haji”,”Nasib Sumando”, “Rumah Kontrak”, “Rintang jo Kain Saruang”,” ujarnya pria asal Guguak Pariangan, Kabupaten Tanahdatar itu. 
Jhon Cakra juga sangat menyayangkan mengenai maraknya peredaran CD bajakan.
“Kendala bajakan memang tidak bisa dipungkiri. Sangat sulit mengikis akarnya. Praktik bajakan akan terus melahirkan akar yang baru. Setidaknya saat ini sudah tidak separah yang dulu, mudah-mudahan dengan perkembangan zaman juga melahirkan kesadaran masyarakat untuk mencintai karya orang lain,” ungkapnya.
Terbaru, Jhon Cakra bersama Upiak Segeh, Mak Itam dan Cabiak bergabung bersama Win Record mengeluarkan album bertajuk “Bagadencak” pada April 2015 lalu. Kini lagu-lagu berjudul “Buruak Sisiak”, “Kadai Kopi”, “Coment Saya”, “Karajo Sampiangan” sudah bisa didapatkan di toko VCD atau download melalui Youtube. (*)

Amrizal dan Ernita Susanti, Pasutri Seniman Rabab Pasisie

Dimuat di Padang Ekspres edisi 20 Juni 2015
 
Sempat Diragukan, Kini Paling Dicari
Rabab pasisie masih tetap eksis di tengah gempuran musik K-pop. Alunan musik dan dendangnya tetap syahdu didengar.
Dari sederet artis yang berkecimpung dalam seni tradisi satu ini, tersebutlah pasangan suami-istri (pasutri) Amrizal dan Ernita Susanti. Seperti apa kiprahnya mempertahankan seni tradisi yang kian langka itu? 
”DA. Oi Da, ado telepon Da, dari Padang Ekspres Da. Kamarilah Uda sabanta,” sahut suara dari Erni Kas, panggilan akrab Ernita Susanti menjawab panggilan telepon Padang Ekspres, kemarin (19/6) sore. Tak lama, Erni pun menyerahkan telepon genggam itu kepada suaminya, Isal Melayu, panggilan Amrizal. 
Pasutri ini merupakan artis Minang bergenre rabab pasisie. Duet Erni-Isal telah lahir 8 album yang dipelopori Eddy Palangki. Erni merupakan warga Surantiah dan Isal Melayu warga Airhaji. 
Lantaran kerap bertemu dalam satu panggung rabab, membuat benih-benih cinta  bersemi di dada kedua insan ini. Kini, keduanya sudah dikarunia tiga orang anak, masing-masing Eri Muliana, Wahyuni Kasnita Putri dan Salsa Kasnabela.
Kecintaan Isal terhadap seni satu ini, sudah terlihat sejak berusia belia. Kendati kedua orangtua dan saudaranya kurang mendukung, tak membuat Isal patah arang menekuni rabab pasisie. Dia mempelajarinya secara otodidak. 
”Saya mencintai rabab karena sering nonton pertunjukan rabab di kampung. Tidak pernah belajar sama guru. Setelah pulang dari pertunjukan rabab, saya langsung mencoba-coba sendiri di rumah,” ujarnya.
Perjalanan karir Isal makin menanjak setelah rekaman perdana bersama Fendinur tahun 2013 lalu. Awalnya, sang produser sempat ragu dengan album perdananya. Sehingga, Fendinur sampai menjual  master album kepada Eddy Palangki.
Tanpa keraguan, Eddy Palangki membeli master album itu dan memproduksi sebanyak 500 keping kaset.
“Waktu itu, master saya yang telah direkam diragukan bisa laris. Namun, Eddy Palangki malah nekat membeli dan memproduksinya sebanyak 5.000 keping. Setelah hasil cetakan pertama ini laris, Eddy pun mencetak ulang sampai 5 kali. Artinya, album perdana saya yang berjudul Uda Rambang Mato, itu sudah terjual 25.000 copy,” ujar Isal kelahiran 1 Juli 1978.
Album Uda Rambang Mato berisi tujuh buah lagu yang diciptakan dan dinyanyikan secara duet Isal dan Erni.
Tiga bulan setelah album perdananya itu laris di pasaran Sumbar, Isal dan Erni menelurkan album keduanya berjudul Bugih Lamo. Dengan ciri khas rabab pasisie, Isal menggesek rabab dan Erni menabuh rebana.
Berkat keseriusannya mengembangkan seni rabab pasisie ini, kini Isal dan Erni telah melanglangbuana Sumbar-Riau. Berbagai undangan pementasan dipenuhinya, di antaranya Pekanbaru, Dumai, Duri, serta seluruh penjuru Sumbar.
”Kalau ada panggilan di luar daerah biasanya tarif menyesuaikan, kadang Rp 7 juta dan kadang Rp 5 juta, tapi untuk lingkup Sumbar Rp 3 juta, tergantung kesepakatan saja dengan yang mengundang,” ujar Isal Melayu.
Sementara Erni, termasuk artis senior di dunia rabab. Pada tahun 1995, dirinya sudah dikenal dengan lagu Anak Balam yang sarat dengan nilai adat di Pesisir Selatan.
”Lagu Anak Balam, karya istri saya ini, dulunya sangat dikagumi masyarakat. Bisa dikatakan belum disebut penyanyi rabab pasisie kalau belum bisa menyanyikan lagu itu,” katanya. (*)

Ketika Desi Sepriani dan Meisy Hertika Berkolaborasi

Dimuat di Padang Ekspres edisi 11 July 2015
http://www.koran.padek.co/read/detail/31802

Dipertemukan Lewat Medsos, Garap Album Duet 
Pertemanan di dunia maya Desi Sepriani dengan Meisy Hertika, menghadirkan berkah tersendiri bagi kedua artis Minang belia ini. Keduanya mendapat tawaran dari musisi Minang senior Eddy Palangki untuk berduet. Seperti apa ceritanya?
Jumat (10/7) sekitar pukul 16.00, Padang Ekpsres berkunjung ke salah satu studio rekaman yang terletak di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Nanggalo, Padang.
Di studio itu sudah ramai berkumpul sederet perempuan seraya memegang selembar kertas dan melafalkan bait-bait yang tertulis di kertas itu.
Setelah diperkenalkan sebagai wartawan, salah seorang perempuan yang berada di kerumunan itu kemudian memulai pembicaraan.
“Awalnya, hanya kenal dan berteman di salah satu jejaring sosial, kesamaan hobi nyanyi, kami menjadi kian akrab. Akhirnya, kami dipertemukan Om Eddy dalam pembuatan album ini,” ujar Desi.
Desi Sepriani, mahasiswi D-3 Kebidanan asal Pasaman Barat ini mengaku sudah tergila-gila ingin jadi penyanyi sejak di bangku Sekolah Dasar. Sempat dilarang orangtuanya, namun tak menyurutkan keinginan Desi. Dia yakin dapat mengubah imej negatif penyanyi Minang ke arah lebih baik.
”Desi ingin membuktikan kepada orangtua, bahwa anggapan mereka soal sifat miring penyanyi itu salah. Penyanyi Minang juga dapat berprestasi di jenjang pendidikannya. Bakat menyanyi di samping seorang calon bidan, kenapa tidak,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Ali Amran dan Nurjani itu.
Lain Desi yang baru menjalani rekaman album perdana itu, lain pula Meisy Hertika. Dara kelahiran 27 Mei 1994 ini sudah menggarap dua album sebelumnya. Artinya, berduet dengan pendatang baru seperti Desi menjadi album ketiganya.
“Ini album ketiga Meisy, album perdana sudah dikeluarkan tahun 2011 lalu. Namun, ada banyak warna baru yang Meisy temukan dalam lagu-lagu kali ini. Liriknya sangat sesuai dengan fenomena generasi muda hari ini.
Agak lucu, namun menyiratkan pesan moral,” kata putri kesembilan dari sepuluh bersaudara, pasangan Baharudin dan Ardis ini. Sebagai pencipta lagu, Eddy Palangki mengatakan, dua sisi dan warna suara yang berbeda antara Desi dan Meisy membuatnya optimistis album ini dapat laris di pasaran.
“Lagu yang disajikan memberi pesan moral untuk para wanita agar tidak terjerumus bujuk rayu pria hidung belang. Dengan lirik yang lugas dan sederhana, dikemas dengan musik enerjik, diharapkan duet dua biduan muda ini dapat menarik animo masyarakat,” ujar Eddy.
Proses pembuatan album, tambah Eddy, menghabiskan waktu tiga bulan dan melibatkan campur tangan sejumlah musisi Minang. Sejak membuat aransemen musik, merumuskan lirik, rekaman dan pembuatan video, semuanya dilakukan dalam waktu yang amat singkat.
Tidak lebih dari tiga bulan, albumnya sudah bisa dilempar di pasaran. Sejumlah musisi yang terlibat antara lain Dodi Alexa, Feri KD, Triz, dan Fadhil entertairment,” katanya.
Selain berduet, album Meisy dan Desi yang ditargetkan selesai Agustus mendatang itu, juga memberikan kesempatan kepada masing-masingnya untuk tampil solo.
“Untuk solo, Meisy akan membawakan lagu “Pandang Partamo”, “Tak Nio” dan “Rindu Mananti”. Sedangkan Desi akan membawakan lagu “Datanglah”, “Puber Partamo” dan “Usah Dirayu”. Sedangkan empat buah lagu akan dinyanyikan secara duet,” ujar Eddy. (*)

Stefani Hendrika, Artis Bergenre Minang Modern

Dimuat di Padang Ekspres edisi 27 Juni 2015

Miliki Suara Khas, Bidan Tetap Nomor Satu 
Kendati berprofesi sebagai bidan di Puskesmas Pasarbaru, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Stefani Hendrika tak lantas “membunuh” bakat bernyanyi. Di luar jam dinas, dia meluangkan waktu mengolah bakat emasnya sebagai penyanyi Minang. Bagaimana kiprahnya?  
Tabuh diiringi kumandang azan pertanda masuknya waktu berbuka, bergema di seantaro Kota Padang. Di bawah lampu temaram kota, membawa Padang Ekspres menuju salah satu rumah makan spesifik dengan tempat berbuka puasa di kawasan Pondok dengan spesial ikan bakar. 
Di rumah makan itu, seorang gadis cantik kelahiran 8 Februari 1991, sudah menunggu Padang Ekspres. Dia adalah Stefani Hendrika. Stefani atau dikenal Stevany sudah meluncurkan album perdana awal Mei 2015 lalu.
Album perdana tersebut berisikan 10 lagu, terdiri dari 7 lagu baru dan 3 lagu lama yang didaur ulang. 
Album itu diproduseri Evan Budiana dan Yusrial, di bawah naungan Sentral Music. Album yang aransemen musiknya ditangani Dicky Rian ini, juga melibatkan Dodi Alexa dalam pembuatan video klip.
”Waktu itu, Vany dikenalkan oleh teman, katanya Om Evan Budiana sedang mencari penyanyi baru. Kebetulan teman Vany ini kenal sama Om Evan. Setelah dites, ternyata Om Evan suka sama suara Vany. 
Kemudian, Vany diajak rekaman di studio Diva Gunungpangilun. Di sanalah Vany kenal dengan banyak musisi senior Minang, termasuk Eddy Palangki,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Stevany tinggal di Kompleks Perumahan Wisma Indah VI Blok O nomor 8, Kelurahan Balaibaru, Kecamatan Kototangah, Padang. Diakui Stevany, butuh konsentrasi ekstra baginya dalam membagi waktu antara menyanyi dan menjalani profesi sebagai bidan.
“Membagi waktu antara kerja dan jadwal manggung, awalnya memang sulit. Tapi kalau dibiasakan, bisa menjadi lumrah saja. Kerja di puskesmas ada shif pagi, siang dan malam. Kalau dinas pagi, bisa izin untuk jadwal tampil manggung malam, begitu sebaliknya. Dalam seminggu jadwal manggung ada dua atau tiga kali, biasanya di Padang paling jauh ke Pesisisr Selatan,” kata finalis Padang Idol 2005 itu.
Putri pasangan suami istri Edison dan Yuliarti ini, menempuh pendidikan sekolah dasarnya di SDN 37 Anduring, kemudian melanjutkan ke SMPN 10 Padang.
Untuk tingkat menengah atas, Stevany memilih SMK/SMKN 7 Padang. Pendidikan tinggi ditempuh di Stikes Ranah Minang Padang, Jurusan D-3 Kebidanan.
Bakat seni musiknya, terasah ketika mengeyam pendidikan di jurusan musik SMKN 7 Padang.Meskipun begitu, Vany mengaku tidak pernah menempuh les privat olah vokal. 
“Papa dulu juga penyanyi. Biasanya, diajarin di rumah, tapi lebih banyak belajar secara otodidak dan tidak ada les privat,” ujarnya. Dirinya mulai sering tampil ketika duduk di bangku SMP dan SMK.
Salah satu video klip album Stevany, diambil di tempatnya bekerja (Puskesmas Pauh). Hal ini menjadi nilai keunikan tersendiri bagi Vany dalam menembus pasar industri musik Minang.
“Alhamdulillah rekaman berjalan lancar. Judulnya Pusaro Mande, menceritakan kisah orangtua yang sudah berumur renta, namun sebagai anak belum bisa membahagiakannya,” katanya.
Dalam menghadapi persaingan industri musik Minang, ciri khas suara menjadi poin tersendiri Stevany. “Kata orang yang sudah mendengar Vany nyanyi, vokal Vany punya ciri khas. Selain itu, dalam album ini, aransemen musik lebih santai istilahnya Minang ngepop modern,” pungkasnya. (*

Annisa Lirizati, Artis Cilik yang Atlet Taekwondo

Dimuat di Padang Ekspres edisi 25 July 2015

Manggung Dua Kali Seminggu, Album Perdana Laris  
Jagoan taekwondo sabuk merah satu ini memiliki talenta menakjubkan. Selain berprestasi di cabang olahraga yang identik dengan kekuatan tendangan itu, dia juga dikenal sebagai artis Minang cilik. Siapakah dia?
Nama aslinya Annisa Lirizati, namun kalangan musisi Minang lebih mengenalnya dengan Annisa Shantia.  Bakat menyanyi putri pertama dari tiga orang bersaudara pasangan Amril dan Yuliza ini, sudah terlihat sejak usia belia.
Kemarin (23/7), Padang Ekspres berkesempatan menemui keponakan penyanyi Desi Shantia di kediamannya, Jalan Gunungjuaro No 5 Siteba, Kecamatan Nanggalo, Padang. Didampingi keluarganya, Icha—begitu panggilan akrabnya—blak-blakan menuturkan perjalanan karirnya menjadi penyanyi Minang.
“Tante yang pertama kali mengajak Icha bikin album, kemudian Icha dikenalkan dengan pencipta lagu dan musik, serta om produsernya. Alhamdulillah, album perdana itu laku di pasaran. Sekarang dapat tawaran lagi untuk album kedua, semoga Icha tidak mengecewakan,” ujarnya malu-malu.
Album perdananya dirilis ketika dirinya masih duduk di kelas V SD.
Awalnya, tambah Icha, niat menyanyi hanya untuk menghibur orang di sekitar saja. Bahkan, tidak pernah terpikirkan oleh lulusan SDN 16 Suraugadang Padang ini, menjadi penyanyi profesional seperti sekarang ini.
“Belajar dan sekolah tetap menjadi prioritas utama. Terpenting harus pandai membagi waktu antara kegiatan rutin latihan taekwondo dan jadwal manggung,” kata dara cantik yang hobi makan ayam goreng ini.
Sekadar diketahui bahwa penyanyi cilik kelahiran 11 Oktober 2001 ini sudah meraih berbagai prestasi sebagai seorang atlet taekwondo. Tahun 2014 lalu, Annisa yang mewakili Padang berhasil meraih juara 2 cabang sabuk merah putri dalam ajang Porprov di Dharmasraya. 
Sebelumnya, tahun 2013, Icha meraih juara 1 dalam kompetisi taekwondo cabang sabuk biru putri di Jambi sewaktu menjadi utusan Sumbar.
Kini di usianya yang baru menginjak 14 tahun, Icha biasanya mendapat tawaran manggung dalam acara pesta minimal dua kali seminggu. Sekali tampil, Icha mendapat uang saku terbilang lumayan besar untuk anak seusianya.
Kendati sudah terkenal, namun Icha tetap memegang teguh pesan dan nasihat-nasihat orangtuanya. 
”Kalau sukses dan meraih suatu prestasi, tidak boleh sombong dan memilih-milih teman. Pintar bergaul dan disenangi banyak orang, dan tetap berpandai-pandai membagi waktu,” tutur Icha mengingat pesan orangtuanya. (*

Boy Shandy, Menguntai Inspirasi dari Kacamata Hitam

Dimuat di  Padang Ekspres Edisi Sabtu 15 Agustus 2015 http://www.koran.padek.co/read/detail/34596 

15 Tahun Ngamen di Jalanan, Kini Hasilkan 50 Album 

”Sakiknyo Patah Bacinto, Padiah Luko, Manyeso Dalam Dado”. Sepenggal lirik lagu di atas, pastilah bakal membawa nostalgia penggemar lagu Minang ke 17 tahun silam. Tepatnya, tahun 1998 lalu. Sekaligus mengingatkan pada satu nama artis yang identik dengan kacamata hitamnya. Siapakah dia?

Ya, dialah Boy Shandy. Pria kelahiran Padang, 11 April 1975 ini, boleh dikatakan ikon penyanyi Minang. Nyaris tidak ada orang yang tidak mengenal namanya di seantaro ranah Minang ini.

Tidak salah pulalah kiranya, sejumlah tulisan di jejaring sosial menasbihkan hampir setiap sudut rumah Sumbar memiliki kaset atau pun Video Compact Disc (VCD) penyanyi satu ini.

Anak kedua dari lima bersaudara buah kasih pasangan Burhanudin dan Malinur ini, sudah dianugrahi talenta luar biasa dalam bermusik dan menyanyi sedari kecil.

Bahkan, saat usianya baru beranjak 8 tahun, Boy Shandy terbiasa merakit alat musik sendiri. Misalnya, drum dari jeriken dan gendang dari kulit kambing, serta gitar dari nilon. 

Ketika anak seusianya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Boy Shandy justru menjalani hidup menjadi seorang pengamen. Kekurangan fisik yang dialaminya bukanlah cacat fisik bawaan dari lahir.

Kedua matanya tidak dapat berfungsi sejak Boy Shandy berumur 2 tahun. Menurut penuturan sang ibunya, dia buta akibat sering menangis sejak lahir.

“Sejak kecil, kata ibu, saya hampir tidak pernah berhenti menangis. Entah karena kekeringan air mata, atau akibat mata terlanjur basah. Ada juga yang mengatakan, dampak sakit campak sewaktu kecil yang tumbuh di sekitar mata saya,” ujarnya.

Kendati begitu, kekurangan fisik tak membuatnya berputus asa. Apa pun yang dilakukan orang normal, juga dilakukannya. Mulai dari berjalan tanpa tongkat, mengayuh sepeda, mengendarai sepeda motor, bahkan menyetir mobil sudah pernah dicobanya.

“Saya tidak pernah merasa minder dengan kawan-kawan sebaya. Apa yang mereka kerjakan, saya pelajari juga. Kalau berkendara sih, ya ada yang teman atau keluarga memandu dan memberi isyarat,” ucapnya sambil tertawa.

Dijumpai Padang Ekspres di kediamannya RT 01 RW 04 Kelurahan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, akhir bulan lalu, Boy Shandy tersipu malu ketika ditanya soal kisah cintanya.

Menurut penuturannya, dia mengukuhkan ikatan cintanya dengan Anita Febrina, 34, wanita cantik asal Payakumbuh, akhir 2005 lalu. Tahun ini, buah hati mereka satu-satunya, Livana Gita, sudah menanjak usia 9 tahun.

Sepuluh tahun sudah keduanya mengarungi bahtera rumahtangga. Boy Shandy mengaku tidak butuh waktu lama memantapkan hatinya, dan membawa kekasih pujaannya itu ke kursi pelaminan.

“Kami kenal pertengahan tahun 2004, saat itu saya jadi bintang tamu pada sebuah iven lomba nyanyi. Saat itu, Anita mendampingi temannya yang ikut jadi peserta lomba. Setelah ngobrol-ngobrol satu sama lain, jadi dekat dan mengalir begitu saja,” kenangnya.

Berbicara perihal karir di blantika musik ranah Minang, Boy Shandy mengatakan bahwa lebih kurang 50 album sudah dirilisnya. Ke semuanya itu, merangkup beraneka jenis aliran musik. 

Mulai dari pop Minang, Melayu, Nostalgia Indonesia, Saluang, Gamad, Dangdut Nostalgia, Remix hingga genre Slow Rock sudah mengalun dari bibirnya. 

Sejumlah lagu-lagunya yang menghiasi situs Youtube, juga tidak kalah sepi peminat. Di antara video klipnya yang paling banyak dilihat viewers antara lain Rindu Bapusarokan (149 ribu viewers), Tirai Sulam Emas (230 ribu viewers) Luko Den Baok Mati (257 ribu viewers), dan Seroja (481 ribu viewers).

Boy Shandy mengaku, seluruh produser musik di setiap penjuru Sumbar sudah dicicipinya. Seingatnya, Nedi Gampo merupakan musisi senior yang pertama kali mengajaknya ke dapur rekaman.

“Saat itu saya tampil menyanyi pada suatu pesta perkawinan. Di situ rupanya ada beliau, usai pesta saya diajak rekaman. Saya masih ingat lokasinya di sekitar Pasir Jambak tahun 1998. Lagu pertama saya waktu itu berjudul Sakik Patah Bacinto itu,” ujar Boy Shandy.

15 Tahun Mengamen

Boy Shandy bukanlah artis karbitan. Dia memulai kariernya dengan mengamen di jalanan selama 15 tahun (tahun 1983 sampai 1998, red). Naik turun bus, sudah menjadi hal biasa dilaluinya. Pengakuan Boy Shandy, Sumbar– Riau sudah hampir dijelajahinya dalam mengadu untung sebagai pengamen.

“Dulu penghasilan Rp 20.00 sehari, sudah sangat besar sekali. Waktu itu belum krisis moneter, gaji pegawai kantoran baru sekitar Rp 150 ribu sebulan. Bahkan, tahun 1992 dan 1993 di area pasar Kota Pekanbaru sehari bisa memperoleh Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Berbekal kemahirannya menciptakan dan mengaransemen lagu, membuat Boy Shandy mengembangkan sayap menjadi produser (tahun 2007, red). Bersama sang istri, dia mendirikan studio rekaman berlabel Sonata Record. 

Sederet penyanyi pendatang baru sudah diorbitkannya melalui label ini, seperti Rina Viola, Cici Wianora, Suci Piliang, Ril Gani, Real Andrean dan Lala Bunga.

Khusus nama terakhir, menjadi tandem Boy Shandy dalam album terbaru mereka bertajuk Dendang Indang Saluang yang dirilis awal Agustus kemarin. Penasaran seperti apa penampilan Boy Shandy dalam kekinian? Silakan beli VCD terbarunya! (*