Teringat dan Terkenang

Untuk menyingkap sisi lain batu nisanku kelak dimana hanya ada nama, kelahiran dan kematian, maka aku menulis!

Selasa, 18 Agustus 2015

Aktivitas Tiga Mahasiswa Yaman Pasca-Evakuasi

Dimuat di Padang Ekspres edisi 21 April 2015

Bantu Orangtua ke Ladang, Isi Tausiyah di TV
Tiga sekawan mahasiswa Yaman asal Padang; Asyam Hafiz, Ilham Taufiq dan Muhammad Alwi, termasuk beruntung bisa dievakuasi dari negara konflik Yaman. Apa kegiatan ketiga mahasiswa ini setiba di kampung halaman?
Begitu tiba di rumah, Alwi kaget menyaksikan tumpah ruah tetangga menyambutnya. Alwi dipeluk haru. “Ndak lamak lalok, makan payah, dek takana nasib anak di kampuang urang,” sambut tetangganya di Kelurahan Gunungsarik, Kecamatan Kuranji, Padang.
Kini, tiga hari sudah Muhammad Alwi berada di sekeliling keluarganya. Anak kesayangan Asnimar dan Oyon Jambak itu, tampak galau menyaksikan kondisi Yaman yang makin memburuk.
Kerisauan Alwi makin bertambah, karena harus memikirkan kuliahnya. “Mungkin Alwi ikut tes ke Al Azhar saja. Itu pun kalau ada dana,” ucap Alwi kepada Padang Ekspres di rumahnya, kemarin.
Kini, keseharian Alwi membantu orangtua di ladang. “Bantu ibu panen kacang panjang selama dua jam di pagi hari, hasilnya bisa langsung dijual. Lumayan daripada tidak berbuat apa-apa,” ujar Alwi.
Oyon Jambak, sang ayah, tak henti berucap syukur mengenai kepulangan anaknya. “Kini perasaan awak lah lega, berkat pertolongan berbagai pihak termasuk pemerintah, anak saya sudah selamat kembali pulang,” katanya.
“Kalau mendapat bantuan dari pemerintah, saya akan kuliahkan lagi Alwi ke Mesir. Tapi kalau ndak, dikuliahkan saja di Padang. Saya pasrah kepada Yang Maha Esa. Anak saya ke sana bukan untuk berbesar hati, tapi mencari Ilmu yang berguna bagi bangsa dan agama,” tuturnya.
Lain Alwi, lain pula Ilham Taufiq, yang tinggal di RT 04/RW 05 Kelurahan Parakkarakah, Kecamatan Padang Timur. Ilham berencana mencari guru besar dan belajar secara langsung menimba ilmu dari beliau.
“Saya dengar ada ulama yang mantap ilmunya di Gunungpangilun, Padang. Tapi kalau kurang cukup, mungkin akan dicari ke Aceh,” katanya.
Selama di Yaman, Ilham “ngidam berat” dengan sambalado khas Padang. “Saya sering teringat sambalado, terutama buatan mama. Tiap hari dentuman bom begitu dahsyat, tidak bisa dibayangkan bagaimana kecemasan mama memikirkan saya,” ucapnya.
Di balik itu semua, Ilham terus berpikir positif. “Hikmahnya, mungkin saya dituntut untuk belajar dulu di sini supaya lebih mantap,” ujarnya.
Meski berkuliah di Yaman, tidak membuat Ilham lupa kacang dengan kulit. Senin (20/4), Ilham berkunjung ke sekolahnya. Ilham merindukan majelis guru yang sudah mengajarnya beragam pengetahuan di MAN 2 Gunungpangilun, Padang. 
“Saya ke sekolah sekadar bersalaman dengan guru, bercerita tentang tragedi Yaman dan tanya jawab mengenai rencana ke depan. Saya teringat jasa-jasa guru saya dulu sebelum saya berangkat ke Yaman,” katanya.
Sebelum kepulangannya ke tanah air, Ilham mendapat pesan dari guru yang mengajar di asrama Yaman, agar menyebarkan ilmu yang diperoleh ke tengah masyarakat. “Walaupun tidak seberapa ilmu yang diperoleh, jangan malu untuk berdakwah. Itu pesan guru saya di sana,” jelasnya.
Meski bulan puasa masih sekitar 3 bulan lagi, Ilham sudah mendapat jadwal mengisi ceramah Ramadhan. Salah satunya di Masjid Baitul Hadi, Kompleks Aurduri Indah.
“Awal pembukaan Ramadhan sudah ada jadwal, yang lain juga ada, tapi lihat nanti saja bagaimana kejelasannya,” tutur Ilham. Ilham berharap janji Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengenai pemberian beasiswa untuk melanjutkan kuliah bisa terealisasi.
“Mudah-mudahan janji pak Gubernur untuk membiayai kuliah selanjutnya, benar-benar terwujud,” harapnya.
Asyam Kebanjiran Rutinitas Dakwah
Setali tiga uang dengan Asyam Hafiz. Pemuda Lubukbuaya, Padang, ini  mengaku sudah kebanjiran aktivitas dakwah. Bahkan, sang ayah yang juga mantan wakil ketua DPRD Sumbar Trinda Farhan Satria, berjanji merekomendasikan jadwal ceramah di masjid sekitar dan di luar Kota Padang.
Tidak hanya itu, mahasiswa yang biasa disapa Hafiz itu, ditawari menjadi pengisi acara tausiyah di salah satu stasiun televisi di Padang.
“Bulan Ramadhan nanti saya sangat ingin berdakwah di Pasaman Timur, kebetulan ada ajakan dari salah seorang teman. Tapi, untuk mengisi waktu luang sebelum memasuki bulan Ramadhan, rencananya belajar di Mahad Zubair Bin Awan dulu, sambilan juga mengisi acara tausiyah di TV,” katanya.
“Kalau tidak ada kesibukan, rencananya main futsal bersama alumni MAPK Kotobaru. Yang penting, jangan sampai diam-diam di rumah, bisa kepikiran menikah,” canda Hafiz.
Kecewa sempat menyelimuti perasaan Hafiz dkk. Dentuman bom terasa begitu keras sesaat sebelum pulang berangkat ke pelabuhan.
“Saking kerasnya, sebagian kaca asrama pun pecah, kami kembali berlari ke dalam asrama. Akhirnya, juru masak asrama berseru “qum qum” (berdiri, red) cepat bersiap bus sudah sampai menjemput kalian,” ucap Hafiz berapi-api menceritakan kisahnya.
Hafiz juga mengisahkan bagaimana kawan-kawannya yang berfoto dimarahi nakhoda. “Al Yaum Laisa Al Waktu Li Taswir (sekarang bukan waktunya untuk foto-foto, red),” ucap Hafiz dengan logat bahasa Arabnya. 
Hafiz sendiri tidak berminat kuliah ke Mesir. “Di Mesir karena tidak terlalu dikekang, tidak ada absen. Sedangkan di Yaman 3 x libur tidak bisa ujian akhir,” jelas Hafiz. Pesan dari guru besar yang paling di ingatnya, yaitu ucapan Syaikh Ridwan Ad Dassany. 
“Kalian mestilah berbahagia atas peristiwa ini, karena kalian menyaksikan peristiwa ini dengan mata kalian. Tidak semua manusia bisa mendapati nikmat yang luar biasa ini, dan kisah ini bisa menjadi cerita indah, serta berbahagia bagi anak cucu dan keluarga kalian kelak. Jangan lupa bahwasanya Rasulullah bersabda dalam hadisnya, ‘siapa yang menempuh jalan ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan menuju syurga’ kalian adalah para mujahid di jalan Allah,” kenang Hafiz dalam bahasa Arab. (*)

Cara Unik Penghafal Al Quran Menghilangkan Kejenuhan

Jungkir Balik hingga Benturkan Kepala 

Dimuat di Padang Ekspres edisi 1 May 2015
Berawal dari rasa keprihatinan minimnya wadah penghafal Al Quran di Kota Padang, Iwan Ahmad tergelitik mendirikan Yayasan Daurah Menghafal Al Quran. Warga Cengkeh, Lubukbegalung, Kota Padang ini ingin membumikan para penghafal Al Quran.
Dia juga bertekad mengubah paradigma bahwa menjadi penghafal Quran tak sulit. Hanya butuh waktu 40 hari, maka 30 juz hafalan Quran bukan hal yang mustahil bisa dihafal.
Iwan Ahmad bercerita, awal mendirikan yayasan tersebut tanpa modal dan hanya kebulatan tekad semata. Ia bersyukur banyak kemudahan yang dia dapatkan untuk mendirikan yayasan.
Keinginannya membuka yayasan menghafal Al Quran berawal dari rasa keprihatinan terhadap banyaknya bibit- bibit penghafal Al Quran, namun belum wadah untuk menampungnya. 
Alumni Daurah Menghafal Al Quran ini  terinspirasi dari kesuksesan 20 hafiz dan hafizah Daurah Makassar yang mengikuti program hafal Al Quran. Dari jumlah itu, 12 orang berhasil menghafal Al Quran 30 juz, selebihnya ada yang 25 juz dan ada yang 20 juz terkendala karena sakit.
“Bulan Ramadhan merupakan momen yang pas untuk menghapal Al Quran. Berlomba lomba beramal dan membaca Al Quran bertepatan dengan bulan diturunkannya Al Quran. Setelah melihat hasil yang didapat oleh teman-teman saya di Makassar, saya berkeinginan mempraktikkannya di Padang, kampung halaman saya sendiri,” tutur Iwan.
Menjadi penghafal Al Quran banyak keuntungannya. Selain dapat memberikan mahkota terindah buat orangtua dari emas saat di alam barzah, penghafal  Al Quran juga akan dipanggil Rasulullah untuk masuk ke surga Firdaus.  
“Itulah yang memotivasi saya untuk dapat memperbanyak para penghafal Al Quran,” ucapnya.
Iwan bercerita, saat dia menghafalkan Al Quran 30 juz dalam 40 hari, pernah menderita demam dan suaranya pun sempat tak ke luar. Namun, rasa sakit  yang dialami tak menyurutkan semangatnya untuk terus menghafalkan Al Quran. Hari ke -18, Iwan sudah dapat menghafal 30 juz Al Quran. 
“Saya hanya tinggal mengulang-ulang kembali hafalan saya. Dibanding dengan menghafal atau menambah hafalan baru, memang menghafal yang paling sulit,” ucapnya.
Bapak dua anak ini bercerita, selama menghafal Al Quran dia pernah mengalami kejenuhan. Untuk menghilangkan kejenuhannya, dia punya cara unik yakni membentur-benturkan kepala ke dinding dan jungkir balik di atas kasur.
“Membentur-benturkan kepala ke dinding tentu bukan berarti untuk menyakitkan diri, tapi hanya menghilangkan kesuntukan semata,” ucapnya.
Selama dia menekuni bidang hafalan Al Quran, selalu mendapatkan kemudahan dalam berbagai urusan. Termasuk saat mengurus perizinan untuk mendirikan yayasan.
“Saat saya mengurus izin yayasan tak ada kendala, baik itu di notaris maupun mendapatkan SK pendirian dari Kemenkumham. Mugkin karena niat saya baik, Allah selalu berikan kemudahan. Saya banyak dibantu orang-orang yang peduli dengan bacaan Al Quran,” ucapnya.  
Untuk terus mengingat bacaan Al Quran, dia kerap mempraktikkannya dalam kegiatan shalat sunat dan shalat wajib. “Untuk memperlancar bacaan shalat tersebut, saya terus mengingat hafalannya pada saat shalat wajib dan tahajud,” ucapnya. (*)

Nur Khairat Arniman: Talenta Minang Bersuara Emas

Nur Khairat Arniman: Talenta Minang Bersuara Emas

Padang Ekspres Edisi 05 April 2015
Khairat yang memiliki nama lengkap Nur Khairat Arniman, satu lagi pemilik suara emas asal Sumatera Barat. Gadis cantik kelahiran 24 September 1989 itu akan mewakili masyarakat Minangkabau dalam Kontes Dangdut Indonesia (KDI) yang ditayangkan salah satu TV swasta nasional.
Khairat bercita-cita mengharumkan nama Sumbar dalam kancah musik dangdut di tanah air. Setelah lolos tahap seleksi 40 besar beberapa waktu lalu, Khairat akan kembali bertolak ke Jakarta Senin (6/4) untuk tahapan selanjutnya menuju 20 besar.
Rabu 8 April mendatang, Khairat akan bersaing dengan kontestan lainnya dalam ajang KDI yang akan digelar secara live mulai pukul 20.00 WIB. Untuk bisa lolos ke 20 besar Khairat mengharapkan dukungan seluruh masyarakat dan perantau Minang yang ada di seluruh  Indonesia.
Dijumpai Padang Ekspres Jumat (3/4), disela-sela kesibukannya usai membawakan sebuah program TV Khairat menyampaikan permintaan dukungan. “Dunsanak, tolong SMS yang banyak ya.Ketik  KDI spasi Khairat kirim ke 95151,” ucap Khairat dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan karir Khairat di dunia musik tergolong unik. Sebelumnya, di sebuah orkes gambus berlabel Nur Khairat, dirinya berposisi sebagai pemain keyboard sedangkan yang menjadi vokalis adalah sang ummy (panggilan Khairat untuk ibunda, red). Waktu itu Khairat masih menduduki bangku MTs.
Buah hati dari Luqman dan Arni itu juga tidak pernah sekalipun mengenyam pendidikan vokal atau les menyanyi secara formal. ”Kalau belajar mengaji itu dari Uya (panggilan Khairat untuk ayahanda, red) kalau belajar nyanyi itu dari Ummy. Tidak ada les formal,” kata gadis cantik yang juga mahir memainkan biola itu.
Khairat juga menceritakan pengalamannya menyanyi di depan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. 
“Waktu itu Khairat menjadi Duta Anak Nasional utusan Sumbar untuk menghadiri sebuah acara di Jakarta, dalam acara itu Khairat di suruh nyanyi di depan presiden. Membawakan lagu berjudul Habibi, Khairat senang sekali karena itu kesempatan langka,” ujar dara yang tergila-gila makan Asam Padeh itu.
Kakak dari Muhammad Sahibul Amin itu mengaku santai soal penampilan. Sebagai persiapan, Khairat lebih fokus mengenal perbedaan cengkok antara musik dangdut dan melayu. 
“Selain menjaga kesehatan, Khairat masih belajar cengkok dan menambah perbendaharaan lagu dangdut, maklum background kan berasal dari musik gambus,” ungkapnya dengan suara tiruan kartun Upin-Ipin.
Soal prestasi, pengalaman anak pertama dari dua bersaduara itu tidak diragukan lagi. Di dunia bintang qasidah, Khairat sudah seringkali menyabet gelar juara, tahun 2011 tim nasyid yang diusungnya berhasil meraih Juara 1 mewakili Sumbar pada ajang Lomba Nasyid Nasional.
Terakhir, Januari lalu Khairat terpilih menjadi Finalis Putri Muslimah Sumbar. Dalam waktu dekat dirinya akan bersaing dengan finalis provinsi lain untuk meraih titel Putri Muslimah Indonesia di Jakarta. (*)

Nisrina Irbah Sati, Terbaik I UN IPS Sumbar

Dimuat di Padang Ekspres edisi  18 May 2015

Susah Tidur, Si Jago Debat Diterima di Fakultas Hukum UI
Sleeping dissorder (susah tidur malam, red), ternyata ada manfaatnya bagi siswa kelas XII IPS 1 SMAN 1 Bukittinggi. Ya, berkat “kelainan” ini Nisrina Irbah Sati berhasil meraih nilai UN IPS 2015 terbaik 1 se-Sumbar. Bagaimana kisahnya?
Ina—sapaan akrab Nisrina Irbah Sati—putri kebanggaan Afdal Sati dan Noviarni ini masih tidak percaya terhadap apa yang barusan diraihnya. Biarpun begitu, mendapat ucapan selamat dari berbagai pihak, tak lantas membuatnya melambung ke awan.
“Jam 8.00 pagi Jumat, di-SMS (pesan pendek, red) guru untuk datang ke sekolah, dikasih tahu tentang prestasi itu awalnya gak percaya. Tapi seiring banyaknya ucapan selamat dari teman-teman via BlackBerry Messenger ditambah info resmi dari lembaga bimbel, baru percaya dan alhamdulillah,” tuturnya lembut.
Bicara cepat sudah mendarah daging bagi dara cantik kelahiran  Samarinda 10 Oktober 1997 ini. Hal itu tampak jelas ketika Padang Ekspres mewawancarainya kemarin (17/5).
Tanpa ragu, setiap lontaran pertanyaan direspons dengan sigap olehnya. Wajar saja, debat merupakan merupakan keahliannya dalam berbagai iven luar sekolah. Tingkat Kota Bukittinggi, Ina pernah meraih juara 1 lomba debat pendidikan antikorupsi dan juara 3 debat Bahasa Inggris tahun 2013.
Di tahun sama, olimpiade bahasa Jerman diadakan oleh Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI) Sumbar, kala itu Ina berhasil meraih peringkat ketiga. Tahun 2014, Ina berhasil meraih juara 2 lomba debat konstitusi dalam iven Pekan Konstitusi Unand tingkat regional (Sumbar, Riau, Jambi).
Selain itu, Ina dkk juga berhasil menjadi finalis debat Bahasa Indonesia tingkat nasional yang diadakan oleh Kemendikbud di Palembang. Mengenai UN, Ina membeberkan tips dan triknya secara gamblang.
“Ina kan sejak SMA menderita sleeping dissorder, tiap malam itu gak bisa tidur cepat. Biasanya, sampai pukul 03.00 malam masih membaca buku. Kalau ada yang ragu tentang akuntansi selalu tanya ke ayah,” ujarnya.
Selain belajar malam, lanjut Ina, menjelang hari “H” UN, Ina memperbanyak bahasan paket soal. “Kan di sekolah itu belajar sore dari pukul 15.00 sampai pukul 17.30 ditambah lagi dengan jadwal bimbel (bimbingan belajar). Materi yang diperoleh, malamnya langsung dipraktikkan dengan membahas soal-soal,” jelasnya.
Peran orangtua, menurutnya, sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar.
“Support dari ayah dan mama sangat besar. Ayah sebagai seorang akuntan selalu menjadi ladang bertanya mengenai hukum dan undang-undang. Sementara, mama mengayomi kami dengan sangat baik sehingga terciptalah suasana kondusif untuk belajar,” ucap anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Sebagai penambah semangat Ina, meski tergolong sibuk, orangtuanya tidak lupa memberikan bonus atas limpahan prestasinya. “Reward dari ayah dan mama setiap mendapat prestasi pasti diajak makan atau ditambahin uang jajan, ya maklum saja ayah kan super sibuk,” tuturnya.
Selain jago debat, Ina yang berdomisili di Jalan Manunggal No 8 RT 3/RW 2 Kelurahan Pulai Anakair, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi itu, juga bercita-cita menjadi seorang hakim.
“Soal ilmu hukum, Ina masih mikir mau fokus ke mana. Minatnya sih mendalami hukum internasional supaya banyak kenal dengan orang dari berbagai negara. Kalau untuk kondisi pasar saat ini sepertinya hukum perdata juga menarik, tapi Ina juga kepikiran menjadi seorang hakim,” ungkap kakak M Habib Sati dan M Firdaus Sati itu.
Tidak lupa kepada teman, menjadi karakter kuat bagi Ina yang juga gemar belajar otodidak bahasa Korea itu.
“Untuk teman-teman yang belum lulus SNMPTN tetap semangat ya. Teruslah berjuang, karena masih ada SBMPTN dan jalur nonreguler. Kata Nelson Mandela, semua akan tampak mustahil sampai semua selesai,” pesannya.
Berbeda dengan remaja pada umumnya, Ina mengaku tidak pernah tergoda pacaran.
“Sampai saat ini Ina gak pernah pacaran. Kalo temen sih komplit, selain cewek, teman cowok juga banyak. Namun, kalau hanya untuk menambah beban pikiran lebih baik fokus buat belajar. Kata mama, masalah pacar ntar aja kalau sudah kuliah,” ucap gadis yang juga berbakat memainkan gitar dan menyanyi itu. (*)

Rayhan F Matheza, Siswa SMAN 1 Batusangkar Peraih Nilai UN IPA Terbaik Sumbar


Dimuat di Padang Ekspres edisi  17 May 2015
Segelas Susu dan Sebutir Vitamin jelang Sekolah
Ujian Nasional (UN) berlalu sudah. Berbagai media massa juga tidak luput dibanjiri pemberitaan selebrasi kebahagiaan para siswa SMA/SMK ketika informasi kelulusan diumumkan.
Hiruk pikuk pelaksanaan UN akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi Rayhan Fajar Matheza. Pasalnya, siswa SMAN 1 Batusangkar ini didaulat sebagai peraih nilai UN IPA terbaik Sumbar. Semangat belajar Rayhan, sapaan akrab Rayhan Fajar Matheza, sudah terlihat sejak kecil.
Saat duduk di bangku kelas 3 SD hingga kini, peringkat juara kelas tidak pernah lepas dari genggamannya. Selain itu, pria berkacamata minus itu juga seringkali menyabet gelar juara dalam berbagai Olimpiade Sains tingkat Sumbar. 
Di antaranya, juara 2 OSK Biologi di STAIN Batusangkar, dan Finalis Lomba Matematika se-Sumbar. Tahun lalu, Rayhan berhasil mendapat titel peraih skor individu tertinggi tingkat provinsi pada Olimpiade Online Nasional 2014 “Piala Hasri Ainun Habibie”.
Kejuaraan tersebut, kompetisi antar sekolah yang diadakan secara online serentak seluruh Indonesia. Selain rutin mengulang pelajaran dan rajin berdoa, Rayhan menyebutkan pentingnya menjaga pikiran tetap tenang saat menghadapi ujian.
“Refreshing perlu juga, tidak harus belajar terus karena bisa stres dan jenuh. Kalau menghadapi ujian segala sesuatu yang menyebabkan stres harus dibuang jauh-jauh agar dapat melalui ujian dengan enjoy,” kata siswa XII IPA 1 ini. 
Sebelum berangkat sekolah sang bunda selalu memberikan bekal vitamin untuk menunjang kecerdasan otak Rayhan menyerap pelajaran. 
“Karena Bunda berprofesi sebagai dokter, setiap hari menjelang berangkat sekolah Bunda selalu memberikan aneka vitamin dan segelas susu,” ujar Rayhan. Tak hanya aneka vitamin dan susu, Rayhan juga mengungkapkan sering belajar kelompok juga memberi dampak positif dalam memahami pelajaran.
“Saling berbagi itu penting. Kalau ada teman yang kurang mengerti sebuah pelajaran saya membantu. Begitu juga apabila saya tidak mengerti juga dibantu teman-teman. Itulah gunanya belajar kelompok yang senantiasa 3 kali seminggu saya lakukan bersama 4 orang teman. Tanya jawab soal dan mengerjakan tugas bareng secara bergiliran di rumah masing-masing anggota kelompok,” tutur siswa Ganesha Operation Batusangkar ini.
Rayhan mengaku sempat jenuh dalam belajar. Namun dia sadar, mengalah terhadap rasa malas bukanlah pilihan tepat. Rasa malas harus dibuang. “Kalau malas dibiarkan, nantinya bisa jadi kebiasaan,” tuturnya.
Berbagai kiat yang digunakan oleh anak semata wayang pasangan Martias dan dr Elza Desdamona SpA. Selain belajar kelompok, dia mengulang kembali pelajaran dari kelas satu dan dua.   
“Rencana saya dulu, akhir kelas 2 sudah mulai mengulang pelajaran ke belakang. Berhubung masih ada beberapa pelajaran yang tertinggal barulah sejak pertengahan semester awal kelas 3 secara rutin saya membaca kembali buku pelajaran kelas 1 dan 2,” imbuhnya.
Hasilnya, Rayhan mampu membanggakan sekolah dan Tanahdatar. Dia tercatat sebagai peraih nilai UN IPA terbaik Sumbar. Rincian nilainya, mata pelajaran Bahasa Indonesia 89,6, Bahasa Inggris  81,3, Matematika 97,4. Selanjutnya, Fisika 100, Kimia 95, dan Biologi 92,5. Total nilai UN 555,8 atau rata-rata 9,2.
Tak hanya terbaik UN IPA di Sumbar, Rayhan pun juga diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN). Lelaki yang mengaku belum pernah pacaran itu bercita-cita menjadi dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis jantung.
“Alhamdulillah sudah diterima menjadi mahasiswa undangan di FK Unand, namun tentang cita-cita saya masih ragu antara dokter spesialis penyakit dalam atau spesialis jantung. Saya minat dua-duanya. Jalani saja dulu, nanti bakal tau sendiri,” ungkap putra semata wayang itu.
Rayhan mengatakan pentingnya peran orangtua dalam menentukan keberhasilan dan prestasinya di sekolah.
“Setiap malam disuruh belajar, bahkan ditemani dari jam 7 hingga 9 malam. Apabila nilai menurun selalu dinasehati agar lain kali ditingkatkan lagi,” ungkapnya.
Pria berkacamata ini mengatakan jika juara kelas biasanya dia diberi reward jalan-jalan ke Padang atau Pekanbaru. “Kalau orang tua tidak terlalu sibuk kadang juga diajak ke Jakarta,” tutur Rayhan. (*)

Sefni, Mahasiswi FMIPA Unand yang Berprestasi di Bidang Syarhil

Sefni, Mahasiswi FMIPA Unand yang Berprestasi di Bidang Syarhil


Wartawan : Rifa Yanas - Padang Ekspres edisi 18 May 2015 
Ikut Lomba Nasional, Latih Dai Cilik 
Di sela kesibukan kuliah, Sefni aktif melatih anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Dara berusia 21 tahun ini melatih anak-anak berpidato, ceramah dan baca puisi.
Berkat bimbingannya, banyak yang meraih prestasi. Mahasiswi FMIPA Universitas Andalas Padang itu, kini bersiap mengikuti MTQ mahasiswa tingkat nasional di Universitas Indonesia (UI) Jakarta.
Sefni, anak bungsu kebanggaan Syofian dan Marinus yang tinggal di RT 01/RW 01 Nomor 23 Kelurahan Kotolua, Kecamatan Pauh, Padang. Sefni kuliah di Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unand.
Sefni salah seorang peserta syarhil Quran, bidang musabaqah yang mengungkapkan isi kandungan Al Quran dengan cara menampilkan bacaan, puitisasi/terjemah dan uraian yang menunjukkan kesatuan yang serasi. 
Kepada Padang Ekspres,  mahasiswi semester 6 ini mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama ke cabang syarhil yang terdiri dari tiga orang, yang masing-masing bertindak sebagai pembaca ayat, pembaca terjemah/puitisasi, dan pengungkap isi kandungan Al Quran.
“Pas melihat sinergi dan kesinambungan ketiganya itu yang membuat Sefni tergila-gila pada bidang syarhil. Makanya jadi ikut syarhil juga,” ungkap anak bungsu dari empat bersaudara ini.
Kecintaan terhadap cabang syarhil, katanya, juga karena bidang ini dapat dikaitkan untuk membahas permasalahan-permasalahan di negeri kita saat ini.
“Contohnya kasus korupsi. Di Al Quran kan ada penjelasannya. Nah, nanti baru kita jelaskan bagaimana korupsi itu sesuai dengan apa yang dimuat di Al Quran,” ujar Sefni.
Di bidang syarhil ini, banyak prestasi diraih Sefni. Di antaranya juara 2 kompetisi syarhil antarkabupaten di Tanahdatar tahun 2010 dan juara 1 kompetisi syarhil tingkat Agam-Bukittinggi di Jambu Air tahun 2011.
Terakhir tahun 2014, dalam ajang MTQ mahasiswa tingkat nasional di Unand, Sefni bersama Indah Rahayu dan Widya Indiyani temannya sesama dari FMIPA meraih juara 3.
”Hidup itu hanya sekali, jadi lakukan yang terbaik. Mudah-mudahan tahun ini dapat lolos seleksi lomba MTQ mahasiswa se-Indonesia di Universitas Indonesia bulan Agustus nanti,” harapnya.
Untuk persiapan seleksi perlombaan MTQ mahasiswa tingkat nasional, Sefni mengaku sering berpidato sendiri di kamar dan berbicara lantang di depan cermin serta menambah pendalaman materi.
Tidak hanya itu. Dirinya juga aktif menjadi pelatih dai cilik di masjid dekat tempat tinggalnya, Masjid Ainul Muttaqin. Di masjid ini, Sefni berbagi ilmu berpidato kepada murid SD dan SMP. Di sela kesibukan jadwal kuliah, Sefni melatih generasi penerus bangsa itu. 
Kurang dari seminggu jelang lomba pidato antar Taman Pendidikan Al Quran (TPA) se-Kelurahan Kotolua bulan Ramadhan lalu, anak didik Sefni berhasil meraih juara 2 tingkat SD dan SMP. Berkat usahanya, Masjid Ainul Muttaqin mendapat juara umum se-Kelurahan Kotolua pada iven tersebut. 
Sebagai pelatih dai cilik dan membaca puisi, Sefni juga mematangkan persiapan anak didiknya tampil dalam Festival Anak Soleh antar MDA/MIN se-Kota Padang. Selain mencintai bidang syarhil, dia sangat tertarik dengan penangkaran penyu yang juga ada kaitannya dengan jurusan Sefni. 
“Dengan mempelajari biologi, secara langsung kita akan dikenalkan dengan setiap makhluk hidup dan belajar mencintai alam, termasuk penyu. Untuk itu, diperlukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga penyu dari ancaman manusia,” katanya.
Saat ini, katanya, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan spesies penyu. Namun, populasinya mulai terancam kepunahan karena ulah tangan manusia.
“Saya terus mengupayakan share informasi melalui media sosial untuk menyadarkan masyarakat supaya mencintai penyu, khususnya di Sumbar,” ucapnya. (*)

Rasyida Rumaisya, Calon Dokter Hapal 30 Juz Al Quran

Dimuat di Padang Ekspres edisi 24 April 2015 

Hapal Al Quran seperti Baca Dongeng 
Meski bukan lagi jadi santri namun gadis manis ini tetap mewajibkan diri baca Al Quran tiap hari. Bahkan di tengah kesibukan jadi mahasiswi kedokteran, di sela waktu menunggu dosen ia sempatkan baca 1 juz Al Quran. Bagaimana kisahnya?
Gadis cantik ini lahir dan dibesarkan di RT 02/RW 01 Bantolaweh Kelurahan Kayukubu, Kecamatan Gugukpanjang, Bukittinggi. Saat ini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Unand Padang.
Rasyida Rumaisya yang akrab disapa Irum, mengawali pendidikan dasar di SD Islam Cahaya Hati Bukittingi. Setelah itu melanjutkan studi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Ar Risalah Padang. Lulus Ar Risalah, ia diterima di jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Unand Padang angkatan 2014.
Selama menempuh pendidikan menengah, Irum sudah meraih banyak prestasi. Di antaranya juara 2 Olimpiade Sains Fisika tingkat Kota Padang tahun 2010. Kala itu Irum masih kelas 2 SMP di Ar Risalah. 
Tiga tahun kemudian anak perempuan dari pasangan Darwin dan Ilma ini, meraih juara 2 Kompetisi Sains Nasional khususnya mata pelajaran Fisika. Di bidang hapalan Al Quran, tahun 2010, ia menjuarai cabang 5 juz.
Dua tahun kemudian, Irum menyabet gelar juara II dalam cabang 10 Juz di Dharmasraya tahun 2012. Lalu cabang 20 Juz yang diikutinya tahun 2013 lalu, Irum meraih juara Harapan. Anak pertama dari lima bersaudara itu selalu menyempatkan membaca Al Quran di sela-sela waktu menunggu dosen. 
“Rutin satu juz sehari tidak boleh lewat, meskipun saat ini jadwal kuliah sangat padat. Harus bisa memanfaatkan waktu sekecil mungkin. Misal, ketika nunggu dosen masuk kelas, karena target kalau bisa tahun 2015 ini sudah hafal 30 Juz dengan lancar,” tuturnya.
Irum yang saat ini masih duduk di semester II FK Unand itu juga membeberkan rahasia jitunya saat menghapal Al Quran. Dulu waktu di asrama, supaya lebih cepat hapal, Irum mempelajari dulu artinya.
“Setelah itu, menghapal dengan trik seperti membacakan dongeng bagi anak-anak. Dengan begitu cepat melekat di kepala,” Irum mengisahkan.
Irum mengaku, mulai mencintai Al Quran sejak masuk Ponpes Ar Risalah Padang. Kala itu dirinya menyaksikan aktivitas teman-teman asrama yang berlomba-lomba menyibukkan diri menghapal Al Quran. Hal itu, pemandangan luar biasa baginya jika dibandingkan dengan mayoritas keseharian remaja saat ini.
Melihat teman-teman yang saling berpacu menghapal Al Quran, Irum juga tidak mau tinggal diam. Berkat dukungan ustadz dan semangat teman-teman akhirnya Irum juga bisa menghapal Al Quran seperti anak-anak lainnya.
“Ternyata menghapal Quran itu tidaklah sulit kalau mau memulai,” ungkapnya. Kalau pulang ke rumah, ibunya biasanya senantiasa bertanya mengenai hapalan Al Quran Irum. Hal itu menjadi motivasi tersendiri baginya. “Itu memacu semangat saya untuk menghafal lebih banyak,” ujarnya. (*)